Langsung ke konten utama

Ajaran Rahasia walisongo



 Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

 

Ketahuilah bahwa yang dimaksud sastra jendra hayuningrat pagruwating diyu adalah rangkaian makna perjalanan insan kembali ke mata air yang hakiki. Itulah yang dimaksud ilmu sangkan paraning dumadi . Yang telah diajarkan kanjeng sunan Kalijaga, sunan Giri, kanjeng syaikh Siti Jenar, kanjeng syaikh sunan Gunung Jati. Ajaran Sastra Jendra hayuningrat pangruwating diyu sendirit terpilan menjadi tiga buana yang disebut Triloka.

Loka yang pertama adalah buana bawah yang merupakan alam kerendah-budian hawa nafsu yang dirangkum dalam makna “Diyu” yang berarti raksasa. Pada tingkat ini manusia Berada pada tahap Ke-Aku-an yang kerdil yang mengejawantah dalam watak Adigang Adigung Adiguna. Manusia pada tingkat ini gerak kahidupanya selalu di selimuti nafsu-nafsu bahkan dijadikannya hawa nafsu sebagai sesembahan dan tujuan hidup mereka. Dan hal itu pada dasarnya berpangkal pada kodrat-kodrat bawaan yang menjadi bagian hakiki kehidupan setiap Insan, karena makna penciptaan manusia berawal dari “intipati tanah” yang membentuk bagian wadag yang dzohir yang secara kodrati merangkum makna “aku” yang kerdil dan berbeda-beda. Sementara pada Ke-Aku-an tersebut melekat kodrat-kodrat dzahir yang senantiasa digetari sifat-sifat terendah dari nafsu-nafsu dzahir  yang mewadag dalam bentuk materi

Dilain pihak, di asal usul pembentukan wadag manusia yang rendah itu terangkum hakikat Ruh Ilahiyah yang terangkum dalam rahasia nafakthu fiihi min ruuhi (Qs.ash shaad:27). Dengan demikian hakikat kerendahan manusiaadalah “kesatuan dari pertentangan”, antara makna rendah “intipati tanah” dengan makna suci Ruuh Ilahiyah. Sehingga hakikat keberadaan manusia senantiasa saling tarik menarik antara yang rendah dan yang tinggi antara yang wadag dan yang Ruhani, antara yang Duniawi dan Ukhrawi.

Bahwa apa yang dimaksud dengan DIYU adalah hakikat manusia yang terseret pada kodrat-kodrat rendahnya untuk melekatkan diri pada yang wadag dengan nafsu-nafsu yang melingkupinya. Manusia tang seperti iniakan mengorbankan apa saja untuk kepentingan “Aku”nya. Manusia DIYU ini memuat berbagai kerusakan segala gerak dan langkah hidupnya hanya dituntun oleh aku yang kerdil. Manusia DIYU inilah oleh allah disetarakan dengan binatang ternak. Bahkan lebih sesat jalan daripada hewan. Bahkan manusia  DIYU ini direndahkan derajatnya sebagai serendah-rendahnya mahluk. Manusia DIYU inilah makhluk yang dimurkai Allah  dan menuju kejalan yang sesat.

Karena itulah setiap manusia wajiblah meruwat DIYU nya dengan Sastra Pangruwat agar dia bisa menjadi “Rajendra Hayuningrat atau Khalifah fi’il ‘ard yang tiada lain adalah al Insan al Kamil.

Rajendra berarti Raja atau khalifah atau wakil al Malik yaitu Raja didunia yang mewakili Maharaja Diraja Alam Semesta. Sedang Hayuningrat bermakna pemeliharaan terhadan jagad dunia (kehidupan dunia), baik jagad ageng maupun jagad alit, baik jagad yang dzahir maupun jagad yang batin. Mereka yang disebut Rajendra itulah manusia-manusia sempirna (al-insan al-kamil) yang telah menemukan jati dirinya dalam kesadaran Sirr al-haqa sehingga menyadari bahwa dirinya tercipta dari satu nafs yang terangkai dalam makna Min nafsin wahidah.

Ketahuilah, bahwa untuk menjadi Insan Kamil Rajendra Hayuningrat itu bukan pekerjaan ringan. Sebab perjalanan dari DIYU menuju RAJENDRA harus melampaui tujuh samudra, tujuh gurun, tujuh lembah, tujuh buana, tujuh langit, yang tidak diketahui batasan-batasannya. Ketujuh bilaga tersebut ragkaian dari pengejawantahan nafs yang menghampar indah, namun penuh keganasan yang siap menenggelamkan dan meleburka apa saja dan siapa saja. Dan ketujuh nafs itu adalah nafs ammarah, nafs lawwamah, nafs sufliyah, nafs muthama’innah, nafs radiyah, nafs murdiyyah, dan nafs kamilah.

Sastra pangruwat adalah rangkaian hukum-hukum dzahir maupun batin yang tidak menghukumi pula makna mata rantai antara DIYU hingga ke RAJENDRA sampai ke YANG ILLAHI. Bagi kita tidak lagi Sastra pangruwat yang haq terkecuali al-Qur’an yang memaknai hukum dari DIYU ke RAJENDRA secara tersurat dan memaknai hukum RAJENDRA ke YANG ILLAHI secara tersirat. Karena semua itu satu ayat dari Sastra Pangruwat yang berbunyi “wa fi anfusikum afalaa tubsiruun” (Qs.Ad-dzuriyat:21) bisa ditafsirkan secara tersurat maupun tersirat deengan segala rangkuman hakikatnya. Dan bagi Rajendra pemaknaan ayat tersebut bisa berarti “dan dia berada dalam nafs-mu tapi engkau tak melihat dia”. Dengan hukum-hukum Sastra Pangruwat semacam itulah mereka yang sudah merangkum makna Rajendra akan terangkum dengan sendirinya kedalam hakikat “laa tataharraka dharratain illa bi-idznillah tidak ada yang bergerak kecuali dengan perintah dan izin allah. Pun dia terangkum dalam makna “laa haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adhiim”.

ketahuilah bahwa Allah sudah mengatakan apabila Dia sudah cinta akan hamba-nya maka Dialah yang akan menjadi pendengaran dan penglihatan hamba apabila hamba ingin mendengar dan melihat. Dia yang akan menjadi tangan jika hamba bekerja dan Dia akan menjadi kaki jika hamba berjalan”,(hadist qudsi).

 

 

Sumber: buku suluk abdul jalil jilid 1-7

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terperangkap Sunyi senyap menyergap Gembung kembang kempis Tak satupun terlihat nyata,  pada Kenyataan yang senyatanya Anggapanmu itulah keberhasilan,  Padahal, entah!!!   Dan terpikir, tersungkur dan mujur Apakah iya, masih bertanya Dalamnya hati tak tersentuh Semua mua mua hanya kebusuukan Tapi tercium semerbak wangi Iya, itulah bau busuk yqng sejatinya! 
KADERISASI PENDEKAR SAMURAI Bermula dari kekacauan yang ada di negara Jepang waktu itu, membuat salah satu orang tergerak hatinya ingin membangun dan mengembalikan keadaan di Jepang seperti sedia kala, yaitu kedamaian. Ia adalah seorang panglima perang yang tadinya menjadi panglima perang pada kekacauan tersebut. Ia mengkader beberapa orang, mengambil 10 anak kecil yag sudah tak memiliki keluarga. 10 anak tersebut menjadi muridnya dan dilatihnya agar menjadi seorang pendekar. Dari kesepuluh anak tersebut, satu diantaranya adalah perempuan, bernama Azumi. Akhirnya kesepuluh anak itu menjalani sebuah proses penggemblengan, pelatihan, penempaan diri untuk mengasah sabetan pedang dan parang. Mereka terus berlatih tanpa henti, sampai akhirnya mencapai puncaknya, bisa menguasai seni sabetan pe da ng yaitu samurai. Tentunya tidak mudah melihat proses 10 orang tersebut. Ada pelajaran yg bisa kita  ambil. Dari kesepuluh pendekar tersebut pasti ada 1 mentor yg dinamakan guru. Yait...
Hijab-hijab Suara gemuruh, menunjukkan bahwa aktivitas manusia yang menjelma menjadi aku aku yang lain, membentuk tatanan dalam sebuah perkumpulan yang dengan berjalannya waktu menjadi desa- desa, yang terdiri dari berbagai titik dan membentuk kumpulan yang lebih besar lagi yaitu menjadi kota- kota dan dari kota-kota menjadi barisan gugusan² besar hingga memenuhi daratan dan menjadikannya pulau menjadi kompleks beserta dengan isi, dqn elemen² sebagi pelengkap serta tempat berekspresi dari apa yang muncul dalam benak setiap manusianya dan sesuai kebutuhan menciptakan pekerjaan² guna menunjang kebutuhan yang dibutuhkan,  entah sebagai penyedia jasa,  atau pencari jasa. Semakin kesini semakin kencang suara terdengar ditelingga, bahwa gesekan antara karet yqng berbentuk dwngan pasir yang mengeras karena dibuat dari berbagai campuran dengan cara digelar diatas tanah yang panjang dan menjadi penyambung kanal² desa satu kedesa yang lain. Kesemuan diri merasukki jiwa y...